Kamis, 27 September 2012

Pengertian website

  • Website atau situs juga dapat diartikan sebagai kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau gerak, data animasi, suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink). Bersifat statis apabila isi informasi website tetap, jarang berubah, dan isi informasinya searah hanya dari pemilik website. Bersifat dinamis apabila isi informasi website selalu berubah-ubah, dan isi informasinya interaktif dua arah berasal dari pemilik serta pengguna website. Contoh website statis adalah berisi profil perusahaan, sedangkan website dinamis adalah seperti Friendster, Multiply, dll. Dalam sisi pengembangannya, website statis hanya bisa diupdate oleh pemiliknya saja, sedangkan website dinamis bisa diupdate oleh pengguna maupun pemilik.
*. UNSUR-UNSUR DALAM PENYEDIAAN WEBSITE ATAU SITUS.
Untuk menyediakan sebuah website, maka kita harus menyeediakan unsur-unsur penunjangnya, seperti halnya:
  1. Nama domain (Domain name/URL - Uniform Resource Locator)
Nama domain atau biasa disebut dengan Domain Name atau URL adalah alamat unik di dunia internet yang digunakan untuk mengidentifikasi sebuah website, atau dengan kata lain domain name adalah alamat yang digunakan untuk menemukan sebuah website pada dunia internet. Contoh : http://www.nama situs .com
Nama domain diperjualbelikan secara bebas di internet dengan status sewa tahunan. Setelah Nama Domain itu terbeli di salah satu penyedia jasa pendaftaran, maka pengguna disediakan sebuah kontrol panel untuk administrasinya. Jika pengguna lupa/tidak memperpanjang masa sewanya, maka nama domain itu akan di lepas lagi ketersediaannya untuk umum. Nama domain sendiri mempunyai identifikasi ekstensi/akhiran sesuai dengan kepentingan dan lokasi keberadaan website tersebut. Contoh nama domain ber-ekstensi internasional adalah com, net, org, info, biz, name, ws. Contoh nama domain ber-ekstensi lokasi Negara Indonesia adalah :
  • .co.id : Untuk Badan Usaha yang mempunyai badan hukum sah
  • .ac.id : Untuk Lembaga Pendidikan
  • .go.id : Khusus untuk Lembaga Pemerintahan Republik Indonesia
  • .mil.id : Khusus untuk Lembaga Militer Republik Indonesia
  • .or.id : Untuk segala macam organisasi yand tidak termasuk dalam kategori “ac.id”,”co.id”,”go.id”,”mil.id” dan lain lain
  • .war.net.id : untuk industri warung internet di Indonesia
  • .sch.id : khusus untuk Lembaga Pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan seperti SD, SMP dan atau SMU
  • .web.id : Ditujukan bagi badan usaha, organisasi ataupun perseorangan yang melakukan kegiatannya di World Wide Web.

Jumat, 21 September 2012

Ternyata Hari jum'at ittu istimewa .

Saudariku, kabar gembira untuk kita semua bahwa ternyata kita mempunyai hari yang istimewa dalam deretan 7 hari yang kita kenal. Hari itu adalah hari jum’at. Saudariku, hari jum’at memang istimewa namun tidak selayaknya kita berlebihan dalam menanggapinya. Dalam artian, kita mengkhususkan dengan ibadah tertentu misalnya puasa tertentu khusus hari Jum’at, tidak boleh pula mengkhususkan bacaan dzikir, do’a dan membaca surat-surat tertentu pada malam dan hari jum’at kecuali yang disyari’atkan.

Nah artikel kali ini, akan menguraikan beberapa keutamaan-keutamaan serta amalan-amalan yang disyari’atkan pada hari jum’at. Semoga dengan kita memahami keutamaannya, kita bisa lebih bersemangat untuk memaksimalkan dalam melaksanakan amalan-amalan yang disyari’atkan pada hari itu, dan agar bisa meraih keutamaan-keutamaan tersebut.
Keutamaan Hari Jum’at
1. Hari paling utama di dunia
Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:
  • Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.
  • Hari akan terjadinya kiamat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)
2. Hari bagi kaum muslimin
Hari jum’at adalah hari berkumpulnya umt Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah jum’at yang berisi wasiat taqwa dan nasehat-nasehat, serta do’a.
Dari Kuzhaifah dan Rabi’i bin Harrasy radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah menyesatkan orang-orang sebelum kami pada hari jum’at, Yahudi pada hari sabtu, dan Nasrani pada hari ahad, kemudian Allah mendatangkan kami dan memberi petunjuk pada hari jum’at, mereka umat sebelum kami akan menjadi pengikut pada hari kiamat, kami adalah yang terakhir dari penghuni dunia ini dan yang pertama pada hari kiamat yang akan dihakimi sebelum umat yang lain.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari
Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad)
4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hari jum’at lalu beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. (HR. Bukhari Muslim)
Namun mengenai penentuan waktu, para ulama berselisih pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut ada 2 pendapat yang paling kuat:
a. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at
Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata padanya, “Apakah engkau telah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?” Lalu Abu Burdah mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.’” (HR. Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat di atas. Sedangkan Imam As-Suyuthi rahimahullah menentukan waktu yang dimaksud adalah ketika shalat didirikan.
b. Batas akhir dari waktu tersebut hingga setelah ‘ashar
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud)
Dan yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau mengatakn bahwa, “Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan generasi salaf dan banyak sekali hadits-hadits mengenainya.”
5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya
Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)
Amalan-Amalan yang Disyari’atkan pada Hari Jum’at
1. Memperbanyak shalawat
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih)
2. Membaca surat Al Kahfi
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua jum’at.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
3. Memperbanyak do’a (HR Abu Daud poin 4b.)
4. Amalan-amalan shalat jum’at (wajib bagi laki-laki)
  • Mandi, bersiwak, dan memakai wangi-wangian.
  • Berpagi-pagi menuju tempat shalat jum’at.
  • Diam mendengarkan khatib berkhutbah.
  • Memakai pakaian yang terbaik.
  • Melakukan shalat sunnah selama imam belum naik ke atas mimbar.
Saudariku, setelah membaca artikel tersebut semoga kita bisa mendapat manfaat yang lebih besar dengan menambah amalan-amalan ibadah yang disyari’atkan. Sungguh begitu banyak jalan agar kita bisa meraup pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal perjalanan kita di akhirat kelak. Wallahu a’lam.
Maraji’:
  1. Do’a dan Wirid, Pustaka Imam Asy-Syafi’i
  2. Tafsir Ayat-Ayat Yaa Ayyuhal-ladziina Aamanuu, Pustaka Al-Kautsar
  3. Amalan dan Waktu yang Diberkahi, Pustaka Ibnu Katsir

Kamis, 13 September 2012

kisah pilu pengamen jalanan


Pengamen dan pengemis anak bukan pemandangan baru di Jakarta. Ada yang merasa kasihan dan prihatin, tak sedikit juga yang sinis dan tak peduli. Namun, tahukah Anda bagaimana kehidupan anak jalanan sesungguhnya? Andes Lukman dan Ajeng Pinto menelusurinya dengan terjun langsung di antara mereka.
Siang itu daerah perempatan Jatinegara, Jakarta Timur, panas terik. Tampak seorang anak lelaki berusia 8 tahun tengah asyik menyanyi sambil menepuk-nepuk tangan di sisi sebuah mobil. Tak jelas syair lagu apa yang keluar dari mulutnya. Setelah bernyanyi beberapa bait, tangannya menadah pertanda meminta uang. Dengan muka memelas ia berkata, “Buat makan dan sekolah, Bu. Minta uang,” begitu katanya singkat.
 Pemandangan seperti ini pasti se*ring Anda jumpai di sudut kota besar, terutama Jakarta. Tak peduli hujan atau panas, anak-anak ini tetap me*minta uang di jalanan. Timbul perta*nyaan, siapa mereka sebenarnya? Ke mana orang tua yang seharusnya bertanggung jawab atas anak-anak ini?
Penasaran dengan hal ini, beberapa waktu lalu kami menelusuri kehidupan pengemis dan pengamen anak-anak di sekitar Prumpung, Jakarta Timur. Untuk masuk ke dalam kelompok ini, Sekar harus melakukan pendekatan dengan keluarga mereka terlebih dulu. Tidak mudah, sebab anak-anak ini benar-benar tertutup dengan orang baru. Baru tanyakan soal tempat tinggal saja, anak-anak ini langsung mengernyitkan dahi. “Ada apa? Mau apa? Kenapa tanya-tanya?” cecar mereka.

Bagi anak-anak ini, tempat tinggal adalah suatu hal yang yang sangat dijaga kerahasiaannya. Pasalnya, bila sudah banyak yang mengetahui tempat tinggal, pastilah banyak orang yang akan berkunjung. “Orang” yang dimaksud di sini bukanlah orang biasa, melainkan institusi, lembaga pemerintah, hingga LSM, yang sering menjaring anak-anak dan orang tua mereka agar tak turun ke jalan lagi. Inilah yang ingin dihindari para pengamen dan pengemis jalanan.

Agar bisa berkenalan dan diterima, Sekar harus mencopot identitas wartawan. Hari pertama berkenalan dengan anak-anak ini, kami terkejut karena ternyata sebagian dari mereka mempunyai telepon selular atau ponsel. Ketika kami menanyakan nomor HP, spontan anak-anak itu menjawab, “Kosong delapan…kapan-kapan kita ke Dufan.” Begitu canda mereka sambil mencibir, menggambarkan keengganan menyebut nomor.
WAJIB MENGEMIS & MENGAMEN

Seperti yang mungkin sudah diduga banyak orang, para pengemis dan pengamen anak ini sudah melupakan pendidikan. Sebenarnya ada kesempatan untuk sekolah, tapi kemauan mereka yang sudah lenyap. Ketua LSM (lembaga swadaya masyarakat) SWARA, Endang Mintarja, yang bergiat untuk anak-anak jalanan di sekitar Jakarta Timur menyebut kondisi ini sebagai titik “aman” orang tua.

Maksudnya, orang tua memang sengaja membiarkan anak-anaknya mengemis dan mengamen di jalanan. “Kenapa dibiarkan? Karena mereka juga mengambil keuntungan dari situ,” katanya. Lalu mengenai pendidikan, beberapa tahun ke belakang Endang dan beberapa timnya memberikan ke*sempatan kepada anak-anak ini untuk sekolah. Masalah biaya SWARA akan berusaha membantu.

Namun kenyataannya tak banyak orang tua dan anak-anak yang tertarik dengan program ini. Mereka lebih senang di jalanan ketimbang harus duduk dan belajar di sekolah. Endang bahkan sudah mengalokasikan uang bagi anak-anak yang mau belajar. Mi*salnya, setiap hari Jumat dan Sabtu SWARA mengundang anak-anak jalanan untuk belajar di kantor SWARA di bilangan Prumpung. Bagi anak yang hadir akan diberikan uang sebesar Rp10 ribu. “Uang itu hitung-hitung sebagai ganti rugi mereka mengamen dan mengemis,” tuturnya.

Ternyata cara ini pun tidak lantas membuat anak-anak tertarik untuk belajar. Ketika Sekar mengikuti kegiatan belajar ini, mayoritas dari mereka malah asyik bersenda-gurau. Misalnya ketika salah seorang guru menjelaskan tentang fungsi RW (rukun warga), tiba-tiba seorang anak langsung berteriak, “Rukun Warga tidak ada fungsinya karena masyarakat selalu berkelahi.” Jawaban itu langsung diikuti gelak tawa teman-temannya.

Begitu pula ketika mereka disuruh membacakan Pancasila. Seorang anak dengan cepat langsung mengacungkan tangannya dan berdiri di antara anak-anak lainnya. “Pancasila! Satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Dua, mari mengamen sama-sama,” kata anak itu sambil tertawa terbahak-bahak. Tak ayal sang guru hanya menggeleng-gelengkan kepala. Anak-anak itu benar-benar liar dan susah diatur.

Dari 105 jumlah anak-anak jalanan di sekitar Prumpung, hanya setengahnya yang mau ikut belajar. Itu pun mereka harus dipaksa dan diming-imingi uang. Melalui program belajar inilah kami bisa berkenalan dengan F, gadis berusia 13 tahun. Di usia setua itu F masih duduk di bangku kelas 3 SD. Terkadang ia malu dengan teman-temannya yang lain karena badannya paling besar. “Harusnya kan saya sudah SMP,” katanya sedih.

Keinginan F untuk belajar tidak datang secara tiba-tiba. Sebelumnya beberapa kali ia ditawari oleh tim dari SWARA untuk mendaftar sekolah, tapi tidak mau. Ia memilih untuk te*rus mengamen di jalanan. F tinggal di sebuah rumah petak di sekitar Prumpung bersama kedua orang tua dan tiga adiknya. Ayah dan ibunya adalah pedagang asongan di sekitar Jatinegara. Barang yang dijual bermacam-macam, mulai dari rokok, minuman, atau apa saja. Yang penting laku dijual.

Pendapatan bersih rata-rata kedua orang tua F hanya Rp20 ribu sehari. Uang itu harus digunakan untuk membayar sewa rumah petak seharga Rp200 ribu per bulan. Rumah itu jauh dari kesan nyaman. Ruangan yang hanya berukuran 3 x 3 meter itu digunakan untuk tidur, masak, dan tempat berkumpul. Kamar mandinya berukuran 1 x 1 meter, namun pintu untuk menutup kamar mandi hanya papan tripleks yang disandarkan. Bila akan menggunakan kamar mandi, kayu tripleks harus diangkat untuk menutup pintu. Jika sewaktu-waktu angin kencang bertiup, papan tripleks bisa terjatuh. Itu belum seberapa. Bila salah satu anggota keluarga F sedang buang air besar, baunya akan “terbang” ke sekeliling ruangan.

Sebagian besar pendapatan kedua orang tua F dari berjualan di pinggir jalan habis untuk membayar kontrak*an ala kadarnya ini. Uang yang tersisa mereka pergunakan untuk makan sehari-hari. Tentu saja tidak cukup. Itulah alasan sang ibu menyuruh F mencari uang di jalanan. Caranya? Ya, terserah. Mau mengamen atau mengemis, sang ibu tidak akan keberatan.

Malah ketika F berusia 3 tahun, sang ibu sudah membawanya berjualan di pinggir jalan sambil digendong-gendong. Tak peduli debu, terik matahari, dan hujan. Ketika sudah berusia 7 tahun, barulah F disuruh mencari uang sendiri. Setiap hari anak ini bisa me*ngantongi uang Rp10 ribu sampai Rp20 ribu dari mengamen dan mengemis. Untuk mengamen tak diperlukan keahlian apa pun. Cukup menyanyi dan bertepuk tangan, jadilah sebuah nyanyi*an. “Tak perlu merdu, yang pen*ting memelas,” kata F sambil tersenyum. Uang yang ia dapat sebagian diberikan kepada orang tua. Sedangkan sebagian lagi digunakan untuk membeli aksesori, seperti gelang dan kalung.

Rabu, 12 September 2012

"sejarah H I J A B"

Pengetahuan saya tentang sejarah tidaklah sempurna. Kita baru bisa memberikan pandangan tentang berbagai budaya suku dan bangsa yang ada sebelum munculnya Islam, ketika kita memiliki pengetahuan dan wawasan sejarah yang sempurna. Namun ada satu hal yang telah diterima oleh semua kalangan yaitu bahwa sebelum kedatangan agama Islam budaya hijab telah ada pada sebagian suku dan bangsa.
Pada berbagai sumber yang telah saya baca berkenaan dengan hal ini, dijelaskan bahwa telah terdapat hijab di Iran Kuno dan kaum Yahudi. Begitu pula di India, terdapat kemungkinan adanya hijab. Namun hijab yang terdapat di semua kaum ini lebih ketat dari hijab yang terdapat dalam hukum Islam. Adapun  di kalangan kaum Arab Jahiliyah tidak terdapat hijab, karena hijab muncul di kalangan Arab melalui perantaraan agama Islam.
Will Durant dalam The History of Civilization (Sejarah Peradaban) tentang kaum Yahudi dan kitab Talmud menuliskan: "Apabila seorang wanita melanggar  ketentuan-ketentuan hukum Yahudi, seperti  keluar rumah tanpa mengenakan sesuatu yang menutupi kepalanya…dan berkumpul dengan orang-orang atau mengungkapkan perasaannya pada laki-laki atau berbicara dengan suara keras sehingga terdengar oleh tetangga maka suaminya berhak mentalaknya tanpa memberikan mahar."[1]
Oleh karena itu, hijab yang terdapat pada kaum Yahudi lebih keras dan lebih berat dari hijab Islam—sebagaimana yang akan dipaparkan pada pembahasan berikutnya secara terperinci.
Dalam buku yang sama, berkaitan dengan masyarakat Iran Kuno, Will Durant berkata:  "Di zaman Majusi—Zoroaster(penyembah api)—wanita mempunyai kedudukan yang tinggi, mereka berinteraksi dengan masyarakat dengan bebas dan wajah tanpa penutup..."[2]
Lantas ia melanjutkan perkataannya: "Setelah zaman Darwisy kedudukan wanita menjadi rendah, khususnya mereka yang berasal dari kalangan elit (kaya). untuk Para wanita miskin terpaksa harus keluar rumah bekerja,  berkumpul dengan orang-orang dan harus melindungi diri mereka sendiri. Sedangkan kebiasaan para wanita mengurung diri di dalam rumah ketika sedang haid terus berlangsung sehingga akhirnya aktivitas sosial mereka terhenti dan hal inilah yang kemudian dianggap sebagai penyebab munculnya hijab di kalangan kaum muslimin. Para wanita dari kalangan sosial atas juga tidak berani untuk keluar rumah kecuali dengan memakai penutup muka. Mereka tidak pernah diberi izin untuk berhubungan dengan laki-laki secara terang-terangan. Bahkana para wanita yang telah bersuami tidak berhak melihat laki-laki lain walaupun laki-laki itu adalah ayah atau saudara laki-laki mereka sendiri. Dari peninggalan lukisan-lukisan Iran Kuno tidak terlihat satu pun paras muka seorang wanita, begitu pula namanya..."[3]
Berdasarkan penjelasan Will Durant ini, maka jelaslah bahwa hijab yang sangat ketat berlaku di Iran Kuno sehingga ayah dan saudara laki-laki sekalipun dianggap bukan muhrim bagi  wanita yang telah bersuami. Lebih jauh, Will Durant berpendapat bahwa peraturan keras adat dan agama Majusi tentang wanita yang harus dikurung di dalam kamar selama masa haid dan diasingkan dari semua orang, adalah penyebab munculnya budaya hijab di zaman Iran Kuno. Peraturan dan adat seperti ini juga dikenakan bagi wanita haid di kalangan penganut agama Yahudi.
Tetapi, apakah maksud Will Durant dari pernyataan: ”Perkara ini (mengurung wanita haid) merupakan sebab diwajibkannya hijab di kalangan wanita penganut agama Islam?”. Apakah yang dimaksud adalah bahwa sebab munculnya hijab di dalam Islam adalah peraturan keras yang terjadi pada para wanita haid? Kita mengetahui bahwa tidak pernah ada peraturan seperti ini di dalam ajaran Islam. Wanita haid dalam Islam hanya mendapatkan dispensasi untuk tidak melakukan beberapa ibadah seperti shalat dan puasa serta larangan berhubungan seksual dengan suaminya selama masa haid. Dan tidak ada larangan baginya dalam hal interaksi dengan orang lain sehingga ia terpaksa harus mengurung diri pada saat itu.
Dan jika yang dimaksud Will Durant dari pernyataan tersebut adalah munculnya hijab di kalangan wanita muslim merupakan penularan dari adat dan kebiasaan penduduk Iran setelah mereka memeluk Islam, adalah sebuah analisa yang tidak benar. Karena sebelum orang-orang Iran masuk Islam, ayat-ayat yang berkaitan dengan hijab telah diturunkan. 
Dari ucapannya yang lain, dapat dipahami bahwa Will Durant berpendapat bahwa hijab muncul dan berkembang di antara kaum muslimin melalui perantaraan orang-orang Iran yang masuk Islam dan  larangan  berhubungan seksual dengan wanita haid cukup memberikan pengaruh dalam perintah mengenakan hijab bagi para wanita muslimah, atau paling tidak dalam pengasingan mereka di saat haid. Ia melanjutkan: 
Hubungan antara Iran dan Arab adalah salah satu penyebab meluasnya hijab dan homoseks di wilayah Islam. Laki-laki Arab pada waktu itu takut akan rayuan wanita tetapi mereka selalu tergila-gila akan hal itu. Maka mereka berusaha membalasnya dengan menutupi pengaruh alami wanita melalui sikap mendua yang biasa dimiliki para lelaki berkaitan dengan kesucian dan keutamaan wanita.[4] Sahabat Umar berkata pada kaumnya: “Bermusyawarahlah dengan wanita akan tetapi kerjakanlah yang berbeda dengan pendapat mereka.” Pada abad pertama, para wanita muslim tidak memakai hijab, laki-laki bisa bertemu dengan mereka, berjalan, pergi ke mesjid dan shalat bersama. Hijab baru ditetapkan pada zaman Walid Kedua (126-127 H). Pengurungan terhadap wanita muncul setelah adanya larangan bagi suami untuk berhubungan seksual dengan wanita pada saat-saat haid dan nifas mereka."[5]
Di halaman lain, Will Durant menuliskan: "Rasulullah telah melarang wanita memakai baju longgar, akan tetapi sebagian orang-orang Arab tidak melaksanakan perintah ini. Pada saat itu, semua kalangan memiliki perhiasan. Para wanita  memakai  baju pendek dengan sabuk  yang berkilauan, pakaian lebar dan berwarna-warni. Mereka mengurai rambut atau mengikatnya dengan indah dan kadang-kadang mereka memakai celak dan benang sutra  hitam pada rambutnya. Biasanya mereka merias dirinya dengan permata atau bunga. Kemudian pada tahun 97 Hijriah mereka memakai penutup (cadar) wajah dari bawah mata mereka dan setelah itu kebiasaan ini menjadi meluas di kalangan mereka."[6]
Sedangkan dalam karyanya tentang orang Iran Kuno, Will Durant menyatakan: "Tidak ada larangan dalam nikah mut’ah. Nikah mut’ah ini sama seperti kesenangan di kalangan orang-orang Yunani dan bebas untuk dilakukan. Bahkan mereka terang-terangan melakukan dan memperlihatkannya pada masyarakat dan mereka (para wanita)  hadir di perjamuan para lelaki sedangkan istri resminya dikurung di dalam rumahnya. Adat kebiasaan Iran kuno tersebut akhirnya menyebar ke dalam Islam."[7]
Will Durant berbicara sedemikian rupa seolah-olah di zaman Rasulullah tidak ada secuilpun peraturan tentang hijab wanita dan beliau hanya melarang wanita memakai baju lebar! Dan sampai akhir abad pertama dan awal abad kedua para wanita muslim berinteraksi tanpa memakai hijab. Tentu saja hal ini tidak benar dan sejarah pun telah membuktikannya. Tidak bisa diragukan bahwa wanita pada zaman jahiliah memang seperti yang dipaparkan oleh Will Durant, namun Islam telah mengadakan perombakan besar-besaran dalam hal ini. Aisyah selalu memuji-muji para wanita Anshar dan berkata demikian: "Keselamatan bagi para wanita Anshar. Setelah ayat-ayat surah Nur turun, tidak terlihat  seorang pun dari mereka keluar rumah seperti sebelumnya. Mereka menutupi kepalanya dengan jilbab hitam, seolah-olah ada burung gagak bertengger di kepalanya."[8]
Kent Gubino, dalam bukunya Tiga Tahun di Iran, meyakini bahwa hijab yang sangat keras di zaman Dinasti Sasani masih tersisa ketika Islam masuk di kalangan orang-orang Iran. Ia juga berkeyakinan bahwa hijab yang ada di Iran Sasani bukan hanya penutup bagi wanita tetapi menyembunyikan dan mengasingkan wanita di dalam rumah. Di saat yang sama, para raja dan keluarganya memperlakukan wanita dengan semena-mena. Apabila mereka melihat wanita cantik di suatu rumah, maka mereka akan mengambil dan membawanya dengan paksa.
Adapun Jawahir Nehru, mantan perdana menteri India, juga berkeyakinan bahwa hijab dalam Islam muncul melalui bangsa-bangsa non muslim seperti Roma dan Iran kuno. Dalam karyanya yang berjudul Menilik Sejarah Dunia pada jilid pertama halaman 328, selain memuji-muji peradaban Islam dan perubahan yang muncul setelah Islam, ia menyatakan: "Berkaitan dengan kondisi para wanita, telah terjadi sebuah perubahan besar dan sangat menakjubkan secara berangsur-angsur. Sebelumnya, tidak  adat kebiasaan hijab di kalangan para wanita Arab.  Mereka hidup dalam kondisi yang tidak terpisah dan tersembunyi dari kaum laki-laki. Mereka hadir di tempat umum, pergi berlalu lalang ke masjid dan pengajian, bahkan kadang mereka sendiri yang memberikan pelajaran dan petuah. Tetapi, setelah  bangsa Arab mencapai kemajuan, secara berangsur-angsur mereka meniru adat kebiasaan dua emperatur tetangga yaitu Romawi dan Persia. Bangsa Arab telah mengalahkan emperatur Roma dan mengakhiri kekuasaan emperatur Persia. Tetapi malah mereka sendiri yang tertular kebiasaan dan adat buruk kedua emperatur ini. Menurut beberapa sumber, adat kebiasaan pemisahan wanita dari laki-laki dan  hijab yang terdapat  di kalangan Arab muncul karena  pengaruh emperatur Konstatinopel dan bangsa Persia".         
Adalah tidak benar jika dikatakan bahwa hanya karena pengaruh interaksi muslim Arab dengan muslim non Arab yang memeluk Islam setelahnya, hijab menjadi lebih ketat dari yang ada di zaman Rasulullah saww.
Dari ungkapan Nehru dapat diambil kesimpulan bahwa dalam bangsa Romawi juga terdapat hijab (mungkin berasal dari  pengaruh bangsa Yahudi) dan adat memiliki selir berasal dari bangsa Romawi dan Persia yang kemudian menyebar di kalangan para khalifah Islam.
Di India pun, hijab sangat ketat dan keras. Akan tetapi belum jelas, apakah hijab di India telah ada sebelum masuknya Islam atau setelah masuknya Islam ke India? Dan apakah orang-orang Hindu menerima hijab karena pengaruh kaum  muslimin khususnya kaum muslimin Iran? Namun yang pasti adalah bahwa hijab orang-orang India sangat ketat dan keras sekali, seperti hijab orang Iran Kuno.
Will Durant juga menyatakan bahwa hijab di India muncul melalui perantaraan kaum muslimin Iran.[9]  Sedangkan Nehru berkata: "Sangat disesalkan, tradisi buruk ini sedikit demi sedikit menjadi bagian dari Islam. Dan penduduk India mempelajari hal itu sewaktu orang-orang Islam mendatangi wilayahnya".
Nehru berkeyakinan bahwa hijab muncul di India melalui perantaraan kaum muslimin yang datang ke India. Namun, jika kita menerima bahwa salah satu sebab munculnya hijab ialah karena kecenderungan untuk bertapa dan meninggalkan segala bentuk kenikmatan, maka hijab di India telah muncul sejak masa-masa sebelum datangnya Islam. Karena kawasan India merupakan pusat lama pertapaan dan pengkebirian segala bentuk kenikmatan materi.
Sementara itu, Bernard Russel dalam karyanya Pernikahan dan Etika, pada halaman 135 menyatakan: "Etika seksual yang terdapat pada masyarakat beradab (maju) bersumber pada dua hal. Pertama kecenderungan untuk konsisten pada jiwa kebapakan, kedua keyakinan para pertapa tentang tercelanya cinta. Etika seksual pada masa sebelum munculnya agama Masehi dan di kalangan para raja di kawasan Timur Jauh, hingga kini hanya bersumber pada hal pertama. Kecuali India dan Iran Kuno karena kehidupan pertapaan muncul dari sana dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia".
Dengan demikian hijab telah ada sebelum kemunculan Islam dan Islam bukanlah pelopor pertama hijab. Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah apakah batasan hijab dalam Islam sama dengan batasan hijab dalam bangsa-bangsa kuno atau tidak? Begitu juga, apakah sebab dan filsafat hijab dalam pandangan Islam sama persis dengan sebab dan falsafah hijab dalam pandangan non Islam? Hal ini akan dijelaskan dalam pembahasan-pembahasan berikutnya.[U Banin Jufrie]


rujukan :
1- Kasyaf, di bawah penjelasan surah Nur ayat 31.
2-Will Durant , The Story of Civilization, jilid 12, hal 30.

Minggu, 09 September 2012

motivasi hari ini (090912)

Wahai Saudaraku,,, aku mencintaimu krna Allah, Diantara bentuk cintaku, aku hadiahkan nasehat ini;

Sikapilah hidup ini apa adanya, jangan terlalu larut dlm kesedihan jika menemui kesulitan dan kegagalan, dan jangan terlalu larut dlm kesenangan jika mendapat kesuksesan.

Ingat sllu !
dunia ini tdk lebih dari sebuah sandiwara yg segera berakhir !!
Tidak ada yg kekal di dunia ini !!!

Utamakan akhiratmu, hanya jangan lupakan duniamu!

Dunia bukan untuk dunia, tapi dunia untuk akhirat.

Semangatlah dalam kebaikan dan jadilah manusia terbaik yg sllu memberikan manfaat untuk orang lain.

Ingat !!! Fasilitas umur yg diberikan Allah kepadamu sangat terbatas, maka janganlah engkau sia-siakan.

Bangkitlah saudaraku! Karena ummat menanti perananmu.

Jangan pernah meremehkan kebaikan walau sekecil apapun, dan jangan pernah menunda untuk berbuat kebaikan.

Perbanyaklah berdoa kepada Allah Rabbmu dlm semua kesempatan terutama di akhir malam. Memohonlah kepada-Nya, menunduklah di hadapan-Nya, bermunajatlah dgn mencurahkan semua pengaduan dan doa-doa kebaikan.

Sungguh hidup ini Indah jika kita mampu menyikapinya dgn benar dan baik.

Selamat Berjuang Saudaraku, Semoga Kesuksesan Sllu Bersama kita smua.. :)

Serasa dan Serasii .

Tidak karena kamu memiliki semua pesona itu sekaligus, maka kamu bisa mencintai dan mengawini semua perempuan. Begitu juga sebaliknya. Pesona fisik, jiwa, akal, dan ruh, diperlukan untuk menciptakan daya tarik dan daya rekat yang permanent bila kita ingin membangun sebuah hubungan jangka panjang. Tapi seperti berlian, tidak semua orang mengenalnya dengan baik, maka mereka tidak menghargainya. Atau mungkin mereka mengenalnya, tapi terasa terlalu jauh untuk dijangkau, seperti mimpi memetik bintang atau mimpi memeluk gunung. Atau mungkin ia mengenalnya, tapi terasa terlalu mewah untuk sebuah kelas sosial, atau kurang serasi untuk sebuah suasana.
Kira-kira itulah yang membuat Aisyah Radhiyallahu`anha sekali ini benar-benar gundah. Orang terbaik dimuka bumi ketika itu, Amirul Mu’minin, Khalifah kedua, Umar bin Khattab, hendak melamar adiknya, Ummu Kaltsum. Tidak ada alasan untuk menolak lamaran beliau kecuali bahwa Abu Bakar, sang Ayah, yang juga Khalifah Pertama, telah mendidik puteri-puterinya dengan penuh kasih sayang dan kemanjaan. Aisyah karena itu, percaya bahwa adiknya tidak akan kuat beradaptasi dengan pembawaan Umar yang kuat dan kasar. Bahkan ketika Abu Bakar meminta pendapat Abdurrahman bin Auf tentang kemungkinan penunjukkan Umar bin Khattab sebagai khalifah, beliau menjawab : “Dia yang paling layak, kecuali bahwa dia kasar.”
Dengan sedikit bersiasat, Aisyah meminta bantuan Amru bin `Ash untuk “menggiring” Umar agar menikahi Ummu Kaltsum yang lain, yaitu Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib yang ketika itu berumur 11 tahun. Karena garis jiwa, akal dan ruh mereka lebih setara dan karena itu mereka akan tampak lebih serasi karena bisa serasa. Berbekal pengalaman sebagai diplomat ulung, pesan itu memang sampai kepada Umar. Akhirnya Umar menikahi Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib.
Kesetaraan dan keserasian. Itu yang lebih menentukan daripada sekedar pesona an sich. Ibnu Hazem menjelaskan, kalau ada lelaki tampan menikahi perempuan jelek, atau sebaliknya, itu bukan sebuah keajaiban. Yang ajaib adalah kalau seorang lelaki meninggalkan kekasih yang cantik dan memilih kekasih baru yang jelek. “Saya tidak bisa memahaminya. Tapi memang tidak harus dijelaskan.”
Ibnu Hazem, imam terbesar pada mazhab Zhahiryah, yang menulis puluhan buku legendaries dalam fiqh, hadist, sejarah, sastra, puisi dan lainnya, lelaki tampan yang lembut dan seorang pecinta sejati, putera seorang menteri di Cordova, suatu ketika harus menelan luka: cintanya ditolak oleh seorang perempuan yang justru bekerja dirumahnya. Ibnu Hazem bahkan mengejar-ngejarnya dan melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan cintanya. Tapi tetap saja ditolak.
“Saya teringat, kadang-kadang saya masuk melalui pintu rumahku dimana gadis itu ada disana, untuk berdekat-dekat dengannya. Tapi begitu ia tahu aku mendekat ia segera menjauh dengan sopan dan tenang. Jika ia memilih pintu lain, maka aku akan kesana juga tapi dia akan pindah lagi ketempat lain. Dia tahu aku sangat mencintainya walaupun perempuan-perempuan tidak tahu hal itu karena jumlah mereka sangat banyak di istanaku.”
Begitulah lelaki yang memiliki semua pesona itu ditolak. Bahkan ketika suatu saat Ibnu Hazem menyaksikan gadis itu menyanyi di istananya, Ibnu Hazem benar-benar terpesona dan makin mencintainya. Tapi ia hanya berkata dengan lirih: “Oh, nanyian itu seakan turun kehatiku, dan hari itu tidak akan pernah kulupakan sampai hari ketika berpisah dengan dunia.”
Oh, lelaki baik yang terluka oleh hukuman keserasaan dan keserasian.

sore inii .

Akhirnya kita harus kembali menanam waktu
di tubuh kita,.  melingkupkan dingin
pada setiap jejak yang terpotong
menggelinjangkan mimpi jadi kata-kata baru
jadi serupa gairah yang merangkul kita
lalu kau ingin sore hanya
bertengger di dahan-dahan kecil
bersama burung, bersama angin
dan warna-warna usia
tapi aku sudah lama meninggalkan sore
tak bisa lagi membingkaikan senyummu
di tubuhnya..